From Taylor, Goals and Pak Nadiem

by - November 18, 2021


Kemarin malam saya cekikikan sendiri bacain memes yang dibuat para netizen untuk Jake Gyllenhaal, pada tahu dong tentang "All Too Well" nya mba Taylor. Bagi yang belum tahu juga its okay, jadi ceritanya mba Taylor rilis album Red versi terbaru dan film pendek yang dia sutradarai sendiri berjudul "All Too Well". Film pendek ini katanya menceritakan tentang bagaimana pahitnya Jake Gyllenhaal dulu memperlakukan mba Taylor. Terlepas dari kecutnya kisah om Jakey dan mba Taylor dulu, saya kepo bacain kolom kementarnya di Ig, well ini ngakak banget sumpah atau humor saya aja yang receh. Komenan yang "give her the scarf back" paling ngakak menurut saya. Dengerin deh lagunya bagus kok, seperti biasa suara emas Taylor nggak ada gagal-gagalnya.

Selain bacain memes netizen terkait lagu ini, saya juga memulai hari dengan mendengarkan lagunya JKT48 yang "River". Entahlah, bagian chorus-nya berhasil saja menyihir saya untuk menjalani hari ini, its kinda hard to explain, bahwa sometimes kita pernah ngerasa mendapatkan energi dari kata-kata positive yang kita dengarkan dari lagu atau orang lain. Cuplikan lagunya saya bagikan ke Lilik berharap dia mendapatkan feeling yang sama seperti yang saya rasakan.

Mendengarkan lagunya seperti menyuruh saya bersabar bahwa sekeras apapun kehidupan hari ini akan ada masanya kita tersenyum dan menemukan sesuatu yang lain. Seketika aja gitu saya flashback tentang keinginan yang dulu saya listkan bersama Lilik. Saya selalu berfikir bahwa sandainya ada sahabat saya disisi pasti hari-hari yang saya jalani tidak sejenuh ini, bukannya saya nggak punya teman disini, punya banget malah, cuman rasanya saya tidak bisa menjadi diri saya saat ketika bersama sahabat saya, gimana sih jelasinnya?

Saya membayangkan kalau ada mereka disini energi saya akan terisi sepanjang hari karena, ketika pulang ada mereka buat ngeluarin unek-unek, atau ada mereka yang selalu punya topik aneh untuk dibahas, duuh gini amat ya hahaha. Oh ya kemaren saya sempat bilang Lilik kalau bulan ini saya mau pergi ke PKU, tapi udah dua minggu berjalan di bulan November saya masih stuck aja disini, wkwk. Saya masih nyari tempat buat vaksin ke-dua, seharusnya jadwalnya tanggal 28 Oktober kemaren, cuman vaksin sekarang cepat habis kalau nggak daftar jauh-jauh hari, rencananya Sabtu ini saya bakal pergi vaksin.

Tadi malam saya juga chat sama salah seorang teman baik di kampus dulu sebut saja namanya Jiminshi, karena emang fangirl garis keras amat dia. Dia cerita tentang dirinya yang ingin jadi dosen dan PNS nanti setelah selesai S2 dan ketika dia menceritakan keinginan itu kepada cirlce-nya ada yang nyeletuk bahwa di jaman yang sekarang ini dia ngerasa jadi PNS adalah goals yang kuno dan agak primitif. Lantaran nyesek banget sama omongan temannya, doi ngechat saya dan bilang emang kenapa kalau dia mau jadi PNS seolah-olah itu keinginan yang primitif banget untuk kita yang bisa dibilang generasi gadget dimana harusnya goals juga harus modern.

Saya paham sih apa yang dikatakan temennya dan saya juga paham tentang apa yang si Jiminshi ini rasakan, saya cuman bisa bilang bahwa banyak hal yang dilalui oleh seseorang sehingga dia bisa mempunyai pandangan atau prinsip hidup yang dia pegang sekarang and who am I to judge? Saya bilang nggak ada yang primitif dari keinginan dia dan pemikiran temannya ini juga nggak modern, goals kita ya balik ke diri kita masing-masing dan nggak perlu menjelaskan diri kita sama orang lain, as long as nggak malingin duit rakyat jadi apapun kita nanti dan kita puas dengan itu, thats enough I guess.

Yahh, begitulah manusia ini kompleks dengan segala isi kepalanya, makanya jumpa sama orang yang nggak men-judge diri kita itu rasanya sejuta. Soalnya saya tahu rasanya bagaimana keinginanmu dipandang sinis sama orang lain dan itu nggak enak, nggak asik bener mimpi aja masih diatur-atur.

Oh ya last topic yang mau saya ceritain yaitu saya senang sama keputusan Permendikbud soal penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus, karena kayaknya sudah menjadi open secret bahwa banyak dosen cabul di kampus-kampus Indonesia yang dibiarkan begitu saja karena tidak adanya undang-undang yang jelas tentang ini dan rentannya blaming victim terhadap korban yang menjadikan mereka berat untuk speak up. Soal dosen cabul di kampus saya punya cerita menjijikan tentang ini.

Bukan, bukan saya yang mengalami tapi salah satu teman sekelas saya saat di semester 3 atau 4 dulu. Saya masih ingat sekali kalau si bapak ini dosen Filsafat. Seperti biasa setiap mata kuliah pasti identik dengan tugas makalah dan presentasi kelompok, saya lupa persisnya bagaimana cuman saat presentasi kelompok lain Fulanah teman saya ini kedapatan ngobrol dengan teman sebelahnya dan berakhir di marah-marahin yang buat si Fulanah nangis. Dua SKS hari itu dihabiskan oleh si bapak ini dengan menasehati kami ini itu, long story short karena merasa bersalah teman saya ini memutuskan untuk minta maaf sama si bapak dosen via BBM (saat BBM masih eksis). Nah, disinilah hal menjijikan yang saya bilang diatas di mulai. Awalnya si bapak bilang its okay no worries asal jangan diulangi lagi aja, ya kayak bapak dosen pada umumnya lah kalau kita minta maaf, btw guys saya baca the whole text via BBM ini, sunnguh emang semenggelikan itu.

Selang beberapa hari setelah permintaan maaf teman saya ini, si bapak tetiba chat lagi bahas materi next week and bla bla bla-nya, namun makin ke bawah chatnya makin nggak bener, mulai dari ngajakin teman saya ngebakso berduaan, nonton, dan yang paling menjijikan si bapak minta teman saya manggil dia mas. Salah satu kekurangan kita ya, kita masyarakat Indonesia sering sekali dimanipulatif sama kalimat "Hormati yang lebih tua, sopan sama guru, dosen bla bla" hal ini yang membuat teman saya tidak blokir si bapak. Akhirmya di blok juga sih karena si bapak cabul mulai mengirimkan photo-photo dirinya yang lagi tiduran sampai yang shirtless ke teman saya, sumpah saya ingat ini aja mau muntah saking jijiknya. Saya masih ingat banget itu si Fulanah nyamperin saya gemeteran sambil nunjukin semua chat si bapak cabul, bahkan sebelumnya dia juga mengimin-imingi Fulanah dengan nilai bagus kalau mau diajak ngebakso di luar, bangsat emang. Ewww.

Kisahnya berhenti gitu aja setelah si bapak cabul di blokir dan si Fulanah berusaha untuk menghindar saat berinteraksi dengan si bapak, dia juga pesan sama saya jangan bilang siapa-siapa dengan dalih malu dan tahu nggak diakhir semester beneran dong ini bapak ngasih temen saya nilai B minus, tapi sebelum penginputan nilai ditutup nilai dia berubah lagi jadi B kalau saya nggak salah ingat.

Makanya saya seneng sama keputusan yang dibuat sama pak Nadiem ini, karena setiap fakultas di kampus itu pasti ada aja dosesn cabulnya dan susah untuk dijerat udah ada kayak syarikatnya gitu deh, dan sedihnya yang disuruh menghindar dan menjaga diri tu kitanya, bukan malah yang cabul yang dihilangkan, ahh udahlah masalah ginian udah open secret bener emang, tanya aja setiap kampus pasti ada aja dosen cabul andalan yang dijadikan topik turun temurun biar dihindari.

Well, kompleks banget ya cerita saya hari ini, banyak hal digodok jadi satu dan jujur saya bingung ngasih judulnya apa, bisa dikatakan the hardest part dari upload tulisan itu adalah nentuin judulnya haha.


Ps: Pict credit to Google





You May Also Like

0 comments

Raise Your Words, Not Voice. It's Rain That Grows Flowers, Not Thunder.
-- El Rumi --